Babak 16 Besar Liga Champions 2025/2026 menjadi mimpi buruk bagi klub-klub Inggris. Dari enam wakil yang tampil, empat di antaranya tersingkir dengan kekalahan mencolok.
Hasil ini menjadi kontras dengan dominasi Premier League di fase sebelumnya. Klub-klub Inggris yang biasanya kompetitif justru tampak rapuh.Kekalahan telak tidak hanya terjadi sekali. Bahkan, beberapa tim harus menerima agregat yang sangat timpang.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar. Apakah dominasi Inggris di Eropa mulai memudar?
PSG dan Real Madrid Tunjukkan Kelas Elite pada Wakil Inggris
Paris Saint-Germain tampil sangat dominan saat menghadapi Chelsea. Klub asal Prancis itu menang agregat telak 8-2.
PSG kembali menunjukkan ketajaman lini serang mereka. Pada leg kedua di Stamford Bridge, mereka menang 3-0 tanpa perlawanan berarti.
Real Madrid juga menunjukkan kualitas serupa. Mereka menyingkirkan Manchester City dengan agregat meyakinkan 5-1.
Barcelona Hancurkan Newcastle Tanpa Ampun
Barcelona menjadi salah satu tim paling impresif di babak ini. Mereka menghancurkan Newcastle dengan agregat 8-3.
Pada leg kedua, Barcelona menang telak 7-2 di kandang. Lini serang mereka tampil sangat efektif sepanjang laga.Namun, dua gol yang bersarang ke gawang mereka menjadi catatan. Ada celah yang masih bisa dimanfaatkan lawan di fase berikutnya.
Tottenham Gagal Bangkit, Atletico Tetap Melaju
Tottenham sempat memberikan perlawanan pada leg kedua. Mereka menang 3-2 saat menjamu Atletico Madrid.
Namun, kekalahan besar di leg pertama menjadi beban berat. Spurs gagal membalikkan agregat secara keseluruhan.
Atletico tetap melaju ke perempat final dengan agregat 7-5. Efektivitas mereka di leg pertama menjadi kunci.
Alarm untuk Premier League di Eropa
Rangkaian hasil ini menjadi alarm serius bagi Premier League. Empat tim tersingkir dengan skor agregat yang mencolok.
Newcastle kalah 8-3 dari Barcelona. Chelsea tumbang 8-2 dari PSG, Tottenham kalah 7-5 dari Atletico, dan Manchester City takluk 5-1 dari Real Madrid.
Kesenjangan performa terlihat jelas di fase gugur. Klub-klub Inggris kesulitan menghadapi efisiensi dan pengalaman lawan.
Jika tren ini berlanjut, dominasi Inggris di Eropa bisa benar-benar runtuh. Liga Champions musim ini menjadi bukti bahwa peta kekuatan terus berubah.




