BYD Geser Tesla sebagai Produsen Mobil Listrik Terbesar Dunia


BYD resmi merebut posisi teratas sebagai produsen mobil listrik terbesar di dunia, mengakhiri dominasi Tesla yang bertahan hampir satu dekade di pasar global. Mengutip Reuters, perubahan peta persaingan ini dipicu oleh melemahnya kinerja pengiriman Tesla sepanjang 2025. Produsen besutan Elon Musk ini mencatatkan penurunan distribusi sekitar 8,6 persen, menandai tren negatif selama dua tahun beruntun. Pada periode Oktober–Desember 2025, Tesla menyalurkan 418.227 unit kendaraan, turun 15,6 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya dan berada di bawah proyeksi analis. Secara kumulatif, realisasi tahunan perusahaan mencapai sekitar 1,64 juta unit.

BYD Unggul Berkat Pertumbuhan Global 

Di sisi lain, BYD mencatatkan performa yang lebih solid. Pabrikan asal China tersebut membukukan pengiriman hampir 2,26 juta unit kendaraan listrik baterai sepanjang 2025, sekaligus menjadi kali pertama unggul secara tahunan atas Tesla. Ekspansi di luar pasar domestik menjadi salah satu pendorong utama. Sepanjang 2025, penjualan internasional BYD mencapai 1 juta unit, melonjak sekitar 150 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk 2026, perusahaan menargetkan distribusi hingga 1,6 juta unit di luar China, meski belum mengungkap sasaran global secara rinci. Pertumbuhan tersebut turut ditopang oleh performa positif di Eropa. Selama 11 bulan pertama 2025, BYD tercatat mendaftarkan lebih banyak kendaraan dibanding Tesla di Jerman dan Inggris, dua pasar mobil listrik terbesar di kawasan tersebut.

Tekanan Persaingan dan Strategi Baru Tesla 

Tekanan terhadap Tesla semakin terasa seiring meningkatnya persaingan dari pabrikan China dan Eropa, termasuk BYD, Volkswagen, dan BMW. Di Eropa, pencatatan kendaraan Tesla menurun di sebagian besar negara sepanjang Desember 2025, meski penjualan di Norwegia justru melonjak dan mencetak rekor. Untuk menahan laju penurunan, Tesla pada Oktober 2025 meluncurkan varian Standard dari Model Y dan Model 3.

Versi ini dipasarkan dengan harga sekitar 5.000 dollar AS lebih rendah dibandingkan model dasar sebelumnya, menyasar konsumen yang semakin sensitif terhadap harga, terutama setelah berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik di Amerika Serikat. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya mendapat sambutan positif dari investor. Sebagian pelaku pasar menilai strategi tersebut kurang agresif dan belum menghadirkan produk baru yang benar-benar menyasar segmen massal. Di tengah tekanan pada bisnis otomotif inti, perhatian investor justru tertuju pada arah strategis Tesla di bawah kepemimpinan Elon Musk, yang kini memprioritaskan pengembangan kecerdasan buatan, layanan robotaxi, serta robot humanoid.

Analis memproyeksikan, pada 2026, keberhasilan Tesla akan semakin ditentukan oleh pengembangan teknologi tersebut, seiring prospek permintaan mobil listrik di Amerika Serikat yang cenderung melandai.

Meski distribusi kendaraan melemah, saham Tesla tetap mencatatkan kenaikan sekitar 11,4 persen sepanjang 2025, yang turut mendongkrak nilai kekayaan Musk. Dengan dinamika pasar yang terus berubah, industri mobil listrik global kini memasuki fase baru. BYD tampil sebagai pemimpin penjualan, sementara Tesla menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan bisnis otomotif dengan ambisi teknologi jangka panjang.

Sumber : kompas.com 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama